Kamis, 12 Agustus 2021

Transfer Do'a Untuk Sang Penggerak... Bagian 2...

Bagian 2

Tawa penuh ceria, beberapa siswa berlarian kesana-kemari seolah tak ingin seorangpun merampas masa remaja yang begitu indah. Sangat enerjik masa dimana mereka haus pengetahuan, penasaran dengan hal baru. Beberapa diantaranya menyapaku seolah tak ada batas diantara kami.

“Siang pak, Assalamualaikum pak, habis ngajar di kelas mana pak?” sapa mereka. Senang rasanya sekedar disapa oleh mereka. Rasa kesal, marah terobati karena beberapa siswa tidak mengerjakan tugas. Sebenarnya anak-anak yang menyapa saya juga bukan anak yang rajin, punya segudang prestasi atau anak yang pandai. Sebagian besarnya adalah anak di bawah rata-rata.

Dipojok kantin milik bu Ayu, tempat paling nyaman sekedar menikmati segelas kopi dan beberapa makanan ringan. Kantin ibu Ayu memang tempat pavorit bagi semua guru untuk menghabiskan waktu istirahat sebelum bel masuk. Tempatnya yang bersih, kursi, meja dan rak makanan tersusun rapi. Beberapa lukisan sengaja dipajang di setiap sudut sehingga menambah kenyaman siapa saja yang datang.

Cuaca pada siang itu sangat panas sekali, terasa matahari berada di atas kepala, sehingga keringatpun tanpa terasa mengalir dengan derasnya, sesekali saya menyeka keringat  menggunakan tisu yang tersedia di kantin. Tiba-tiba saya mendapatkan pesan singkat bahwa program guru penggerak angkatan ke-2 dibuka. “Terima kasih informasinya pak” membalas pesan dari rekan sejawat.

Setelah membayar semua pesanan. kulangkahkan kaki menuju para pemburu ilmu yang dari tadi mengharapkan kehadiranku. Langkah penuh harap semoga dengan mendaftar program guru penggerak saya mendapatkan jawaban dan solusi terhadap kekuranganku selama ini menjadi guru.

Sesampainya di rumah ingin rasanya menceritakan keinginan mendaftar sebagai guru penggerak. Ternyata isteri masih tertidur pulas. Setelah menyelesaikan makan siang dan solat zuhur,

Lega sekali rasanya, merasakan seluruh badan yang menempel di kasur, menghilangkan semua rasa capek dari segelumit rutinitas seharian. Saya merebahkan tubuh ini disamping isteri yang tertidur pulas. Saya tidak tega membangunkannya karena pasti sangat capek seharian menngurus rumah dan anak-anak. Disampingnya ada bayi kami yang masih berumur 5 bulan sedang menikamti ASI. Kubelai rambutnya, kecupan sayang di keningnya ”terima kasih bu” ucapku.

Pagi itu sang surya enggan untuk menampakan wajahnya angin semilir bersembunyi di balik awan hitam yang pekat, burung yang biasa bernyanyi hanya sesekali terdengar kicauannya. Saya yang sudah dari tadi siap untuk berangkat sekolah setelah menyelesaikan sarapan yang dibuat oleh istri tercinta.

Sambil tersenyum membawa segelas kopi yang masih hangat dan menyodorkannya. " mas bro silakan diminum kopinya" suara lembut itu menyadarkanku dari lamunan. " Ya mba bro terima kasih",  terkadang kami bercanda dengan memanggil mas bro dan mba bro.

Kemudian dia bertanya " apa yang bapak pikirkan?".  " Ini bu,  saya berkeinginan untuk mendaftarkan diri sebagai calon guru penggerak". " Apa itu guru penggerak tanyanya dengan lembut?", kemudian saya jelaskan seperti apa guru penggerak tersebut.

Tak kusangka responnya sangat baik, dengan penuh semangat dia memberikan motivasi untuk segera mendaftarkan diri. "Ini program yang sangat bagus buat bapak. apa yang menjadi masalahnya?" kupandangi wajahnya yang tulus tampak jelas ada beberapa kerutan yang sudah mulai nampak di wajahnya menandakan begitu besarnya pengorbanan yang sudah dilakukan untuk keluarga kecilku, karena kurang istirahat mengurus diriku dan anak-anak terlihat jelas matanya yang layu menandakan dirinya kurang tidur.

“Program ini sangat panjang Bu, apakah ibu mengijinkan saya untuk ikut program ini?".  " Pah...apapun itu, jika tujuannya bagus untuk bapak dan orang lain, ibu selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik buat bapak". "Terima kasih bu, ibu memang sangat luar biasa, Bapak tidak salah memilih ibu sebagai pendamping bapak". Sambil mengecup tangannya yang dari tadi kugegam erat.

Bersambung…



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar